MELIRIK BANJIR TAHUNAN KOTA SINGKAWANG

Kota Singkawang selama ini kita kenal dengan sebutan kota pariwisata karena memiliki banyak keindahan panorama alam baik berupa panorama gunungnya, pantainya serta panorama kebun bunganya. Namun dibalik keindahan panorama yang dimiliki oleh kota Singkawang, ada permasalahan – permasalahan yang hingga saat ini belum bisa ditanggulangi dan ditemukan solusinya. Banjir tahunan merupakan salah satu permasalahan kota Singkawang yang belum ditemukan solusinya.

Pada akhir tahun antara bulan Desember hingga Januari masyarakat Kota Singkawang yang tinggal di daerah dataran rendah harus selalu siap dan waspada karena pada bulan – bulan ini apabila terjadi hujan dengan intensitas yang cukup tinggi maka akan dapat memacu terjadinya banjir.

Banjir yang terjadi di beberapa kawasan di kota Singkawang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan pasang air laut. Hujan deras dan air laut yang pasang tidak dapat ditampung oleh saluran – saluran air di kota Singkawang, sehingga meluap dan menggenangi beberapa ruas jalan terutama yang berada di dataran yang lebih rendah. Selain sebab – sebab diatas ada beberapa faktor penyebab terjadinya banjir baik itu di kota Singkawang maupun di kabupaten – kabupaten lain di wilayah Kalimantan barat. Beberapa penyebab tersebut antara lain :

1.             Adanya kiriman air hujan dari daerah penghuluan.

2.          Kerusakan daerah aliran air sungai (DAS) Kapuas dan Landak, dimana daya tampung palung sungai

menjadi kecil.

3.         Saluran air yang tidak berfungsi dengan baik, karena banyak yang tersumbat, ditutup, atau dicaplok menjadi            lahan rumah sehingga aliran air menjadi tersumbat atau tidak lancar.

4.             Tanah yang mempunyai daya serap air yang buruk

5.             Kian meluasnya permukaan tanah yang tertutup / ditutup. Terjadi perubahan tata air permukaan karena     perubahan rona alam yang diakibatkan oleh pemukiman, industry dan pertanian

6.             Tingginya sedimentasi, yang menyebabkan sungai dan parit cepat mendangkal

7.             Permukaan air tanah yang tinggi (daerah datar). Jumlah curah hujan melebihi kemampuan tanah untuk     menyerap air , sehingga air mengalir pada permukaan.

8.             Buruknya penanganan sampah kota serta tidak memadainya infrastruktur pengendali air permukaan.

9.             perubahan / instabilitas iklim yang disertai badai tropis. Penyimpangan iklim yang disebut gejala El nino dan            La Nina menjadi dominan. Dan yang mengacaukan iklim terutama di kawasan pasifik.

10.          Gelombang besar / tsunami akibat gempa bumi menyebabkan banjir pada daerah pesisir pantai pada        wilayah tertentu di tanah air.

11.          Telah tidak berfungsinya berbagai jenis kawasan lindung untuk menyerap air akibat ulah manusia, karena                besarnya peluang (opportunity sets) bagi perorangan / perusahaan merusak Sumber Daya Alam akibat       berbagai fungsi lembaga – lembaga publik yang tidak jalan sebagaimana mestinya.

Dari berbagai macam penyebab terjadinya banjir diatas, sebenarnya dapat dilakukan beberapa upaya penyelesaian karena apabila banjir terjadi dalam tempo waktu yang cukup lama maka akan mengakibatkan terganggunya sejumlah besar aktivitas masyarakat, sejumlah infrastruktur penting menjadi rusak, demikian pula kerusakan biofisik yang diakibatkannya. Selain itu bencana banjir juga kadang mengakibatkan kerugian materi dan jiwa. Beberapa upaya yang diyakini dapat mengantisipasi bencana banjir guna meminimalisir akibat dan dampak dari banjir adalah sebagai berikut :

1.             perbaikan system DAS, meningkatkan jumlah dan kulaitas vegetasi penutup tanah maupun daya tampung                jaringan hidrologi DAS. Caranya antara lain dengan menanami kembali kawasan DAS dengan tanaman   yang akarnya mampu meretensi air dan melakukan perbaikan bila terdapat penyempitan saluran air atau           jaringan hidrologi. Tindakan dalam pengelolaan DAS meliputi bidang – bidang biofisik, pemberdayaan       masyarakat, dan kelembagaan. Dalam perencanaan pengendalian banjir, pemecahannya perlu ditinjau dari                sudut pandang kawasan DAS, tidak dapat per daerah administrative yang ada dalam satu kawasan.                 Pembicaraan harus dilakukan bersama antar pemerintah provinsi, kota, kabupaten (Dinas terkait).

2.             Membentuk satuan khusus untuk mengantisipasi kemungkinan datangnya banjir, satuan khusus ini dapat                 terdiri dari gabungan instansi terkait seperti dinas – dinas, Kecamatan, Desa, TNI / Polri, Sat Pol PP,               termasuk juga melibatkan masyarakat secara aktif.

3.             Menyediakan dana bencana alam setiap tahun. Perlu diketahui bahwa Indonesia termasuk salah satu        Negara di dunia dengan persentase sekitar 10 – 12 % dari bencana alam yang terjadi di dunia.

4.             Mewaspadai gelagat sungai besar di daerah Kalbar Umumnya Sungai Kapuas dan sungai Landak serta   anak – anak sungai pada khususnya.

5.             Mengkritisi daerah rendah di tepian sungai, normalisasi ( dalam air khusus) sungai – sungai Kapuas dan   Landak khususnya dan anak – anak sungai terkait, terutama di kawasan hilir.

6.             Meningkatkan kesadaran lingkungan : Belajar dari banjir, mempelajari jenis intervensi yang dilakukan        manusia yang merusak lingkungan sehingga mengganggu siklus hidrologi.

7.             Merumuskan kebijakan agar penduduk hidup dalam batas – batas yang aman dari banjir, genangan.

8.             solusi global untuk mengatasi penyimpangan iklim adalah ikut membantu mengurangi emisi gas dari industri           untuk mengurangi efek rumah kaca

9.             Menerapkan managemen pengendalian tata air permukaan yang berbasis daerah aliran air sungai yang   memerlukan kelembagaan yang lintas sektoral dan lintas wilayah. Sejauh ini perhatian terhadap sistim              managemen seperti ini masih sangat rendah. Semua sektor dan tiap wilayah bertindak sendiri untuk               mengakali banjir sehingga masalahnya tidak akan pernah terselesaikan.

10.          Menerapkan pendekatan managemen wilayah dan managemen lingkungan.

11.          Karena Indonesia sedang mengalami demokratisasi di mana awal keputusan di ranah publik selalu di        dahului oleh program partai politik, maka lingkungan hidup seharusnya menjadi program yang penting bagi     setiap partai politik.

12.          Membangun komitmen mencegah / mengatasi banjir secara berkesinambungan.

13.          Air hujan di setiap rumah / bangunan tidak dialirkan ke selokan, tetapi diserap ke dalam tanah atau ke        dalam sumur resapan. Dalam hal ini perlu pengaturan / ketentuan pemerintah daerah.

14.          Pemberdayaan masyarakat dengan penyuluhan, kampanye, dan bimbingan tentang cinta lingkungan        secara berkesinambungan, diintensifkan sebagai program pembangunan pemerintah daerah. Dalam hal ini,         peran pemerintah sebagai fasilitator, tokoh, dan pemuka masyarakat sebagai sosok anutan, lembaga          swadaya masyarakat (LSM) sebagai pendamping pembangunan, dan perguruan tinggi sebagai              pengembang tekhnologi sangat berarti untuk melangkah bersama dalam memberdayakan peran aktif             masyarakat sebagai upaya  pengendalian banjir.

15.          Mengembangkan kembali bangunan rumah panggung, terutama di sekitar tepian sungai Kapuas dan         Landak, sebagai upaya meningkatkan motto : Hidup Harmonis Dengan Banjir.

16.          Memberikan peringatan dini banjir yang dapat dilakukan beberapa hari sampai satu hari sebelum terjadi   dengan menginformasikan pada instansi terkait. Dalam hal ini dapat digunakan radar hujan yang bias       memprediksi curah hujan sesaat, sebagai bagian dalam sistim preingatan dini banjir. Alat ini dapat        memprediksikan intensitas dan lamanya hujan yang akan terjadi hingga H minus 4.

Banjir memang tanggung jawab kita bersama, tetapi perlu diingat pula bahwa persoalan yang paling mendasar saat ini bukan terletak pada tingkah laku perorangan, tetapi bagaimana mengaktifkan fungsi dan peranan lembaga / institusi terkait sehingga mampu mencegah peluang bagi perorangan / perusahaan untuk merusak sumber daya alam. Disamping itu komitmen yang jelas dan berkelanjutan dari pemerintah daerah / kota, para wakil rakyat serta masyarakat sangat diperlukan dalam mengantisipasi terjadinya serta dampak negatif yang ditimbulkannya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s